Ramalan Ibu Dewi Gayatri Pada Pelantikan Gubernur DKI

Paranormal Wanita, Ibu Dewi Gayatri. Mengungkapkan ramalannya mengenai pemimpin Ibu kota yang baru. Berikut isi prediksi Ibu Dewi Gayatri:

Warga Ibukota saat ini pantas lega, sebab Gubernur dan wakil Gubernurnya kini telah sah, dengan kata lain sudah dilantik secara sah oleh Presiden Jokowi. Diibaratkan pengantin, saat ini momen-momen mesra-mesranya dua sejoli, Gubernur dengan warganya.

Pasangan baru sebuah rumah tangga yang bernama “Jakarta” ini memiliki banyak PR (baca: pekerjaan rumah) yang wajib segera dibenahi. Mulai dari persoalan infrastruktur, hingga pembangunan mental masyarakatnya yang terkenal Individual.

Apalagi persoalan banjir dan macet di ibu kota, dari dahulu sampai sekarang, tak juga terpecahkan. Bak mengakar kokoh, sampai-sampai akar yang mengakar ini mengakar lagi, dan seperti itu selanjutnya.

Tidaklah hal yang pertama Gubernur Anis Baswedan dilantik Presiden Jokowi, 3 tahun silam, tepatnya 27 Oktober 2014, ia dilantik menduduki Mentri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, Anis Baswedan diberhentikan lantas diganti Oleh Muhadjir Effendy.

Serupa remaja, yang suka pacaran putus nyambung, kini Anis Baswedan kembali lagi ke istana untuk dilantik lagi oleh Presiden Jokowi.

Dari apa yang Saya lihat, setahun dua tahun pada masa kekuasaan Anis-Sandi problem yang sama, yaitu Kemacetan, akan terus berlanjut. Tidak mudah mengurai kemacetan Ibu kota, kebijakan Anis-Sandi tak berefek sama sekali.

Cukong-cukong yang mengendalikan ibu kota di balik layar tampaknya akan semakin damai-damai saja. Hotel Alexiz yang katanya akan ditutup. Tidak akan gampang begitu saja. Setidaknya setahun pertama kepemimpinanya, perkara Hotel tak akan rampung.

Korupsi dan rasuah di kalangan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Jakarta akan menjadi hambatan Anis Baswedan.

Isu-isu SARA yang menyerang individu atau kelompok tertentu, tampaknya tidak akan semakin surut, tetapi malah makin menyebar.

Di tambah lagi dalam pidatonya, ketika mengucapkan “pribumi”, Anis Baswedan sepertinya menyatakan bahwa Jakarta seolah kepunyaan satu golongan saja.

Gubernur Anis tidak akan mengakhiri politik identitas yang digulirkan ketika masa pilgub lalu. Walaupun kini mereka sudah menjadi DKI1.

Gubernur memang ada pada Anis Baswdan. Namun Anis hanya sebagai “etalase” saja, sentra kepemimpinan DKI tidak pada Anis-nya, tapi pada Sandi.

Ada rencana di bawah tanah untuk menuju kekuasaan lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *