Inilah Penjelasan Tentang Obsesive Complusive Disorder (OCD)

Gangguan Obsesif Koplusif atau yang lebih sering dikenal dengan singkatan OCD adalah kelainan psikologis yang menyebabkan seseorang mempunyai pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat komplusif. Kelainan seperti ini akan ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitive (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari tiga kali sebelum meninggalkan rumah.

OCD

Penderita OCD umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku. Ada empat tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, komplusi, dan kemudian kelegaan sementara.

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa ketakutan dan kecemasan. Kemudian obsesi dan kecemasan itu akan memicu aksi kompulsi dimana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan dapat dikurangi. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara akan tetapi obsesi dan kecemasan akan kembali dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Menjaga kebersihan dan kerapian yang berlebihan bukan berarti Anda menderita OCD. Pikiran OCD bukan hanya sekedar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Apabila obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, maka Anda perlu periksa diri ke dokter atau melakukan Terapi Penyembuhan OCD.

Langkah Penyembuhan dan Komplikasi OCD

Tingkat penyembuhan bergantung kepada sejauh apa dampak OCD yang Anda alami dalam kehidupan Anda. Ada beberapa langkah dalam penanganan OCD, yaitu :

  • Terapi Penyembuhan OCD dengan energi tenaga dalam. Terapi ini dapat membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara berpikira dan perilaku Anda.
  • Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gejala yang Anda alami.

Melakukan terapi merupakan salah satu cara alternative untuk menyembuhkan penderita OCD. Dengan rutin melakukan terapi maka penderita memiliki kemungkinan untuk sembuh dan menikmati hidup mereka.

Jadi jika tidak segera ditangani, perasaan tertekan dapat bertambah parah dan membuat penderita makin sulit untuk menghadapi sehingga mengalami depresi. Tingkat depresi yang parah bahkan dapat memicu dorongan untuk melakukan bunuh diri.